Memperingati Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026

Oleh: Guntur Subagja Mahardika
Founder Indonesia Strategic Intelligence (ISI) /
Ketua Kajian Kebijakan Strategis Center for Strategic and Global Studies (CSGS) Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) Universitas Indonesia
Ketua Umum Insan Tani dan Nelayan Indonesia (INTANI)
Ketua Umum Arus Baru Indonesia (ARBI)
Pendiri Yayasan Mitra Mikro
Pada 1 Juni 1945, di tengah perjuangan bangsa menuju kemerdekaan, Soekarno menyampaikan pidato bersejarah di hadapan sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Dalam pidato yang kemudian dikenal sebagai “Lahirnya Pancasila”, Bung Karno menawarkan lima prinsip dasar yang menjadi fondasi bagi negara Indonesia merdeka. Dari gagasan tersebut lahirlah Pancasila yang kemudian disempurnakan dan ditetapkan sebagai dasar negara Indonesia.
Delapan puluh satu tahun kemudian, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Lahir Pancasila dalam suasana dunia yang jauh berbeda. Jika para pendiri bangsa dahulu menghadapi kolonialisme dan perjuangan kemerdekaan, generasi Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang tidak kalah kompleks: rivalitas geopolitik global, revolusi kecerdasan buatan (artificial Intelligence), perang informasi, perubahan iklim, krisis pangan dan energi, serta persaingan ekonomi yang semakin ketat.
Pertanyaannya, apakah Pancasila masih relevan? Jawabannya bukan hanya relevan, melainkan semakin penting.
Pancasila: Ideologi yang Melampaui Zaman
Banyak negara besar mengalami perpecahan karena perbedaan etnis, agama, ideologi, maupun kepentingan politik. Indonesia yang terdiri atas lebih dari 17.000 pulau, ratusan suku bangsa, dan beragam agama justru mampu bertahan sebagai satu negara karena memiliki titik temu bernama Pancasila.
Ketika Bung Karno mengusulkan kebangsaan, kemanusiaan, demokrasi permusyawaratan, kesejahteraan sosial, dan ketuhanan, sesungguhnya beliau sedang membangun fondasi yang mampu menjembatani berbagai perbedaan dalam masyarakat Indonesia. Pemikirian besar dan futuristik. Bahkan, tidak lekang oleh zaman.
Di era digital saat ini, ancaman terhadap persatuan bangsa tidak lagi datang melalui penjajahan fisik, tetapi melalui polarisasi sosial, disinformasi, ekstremisme, radikalisme, dan perang narasi yang menyebar sangat cepat melalui media sosial. Karena itu, Pancasila harus dipahami bukan sekadar hafalan lima sila, melainkan sebagai panduan hidup berbangsa dalam menghadapi tantangan zaman.
Nasionalisme Generasi Muda Sedang Mengalami Transformasi
Nasionalisme generasi muda Indonesia saat ini berbeda dengan nasionalisme generasi kemerdekaan. Jika dahulu nasionalisme diwujudkan melalui perjuangan fisik melawan penjajah, kini nasionalisme diwujudkan melalui prestasi, inovasi, produktivitas, dan kemampuan bersaing di tingkat global.
Sayangnya, terdapat paradoks yang perlu menjadi perhatian. Di satu sisi, generasi muda Indonesia merupakan generasi yang paling terkoneksi dengan dunia melalui internet dan teknologi digital. Di sisi lain, keterhubungan global tersebut juga menghadirkan risiko berupa lunturnya identitas kebangsaan, meningkatnya budaya instan, serta derasnya pengaruh informasi yang tidak selalu sejalan dengan kepentingan nasional.
Nasionalisme abad ke-21 tidak dapat dibangun hanya melalui slogan atau seremoni. Nasionalisme harus diwujudkan dalam kemampuan menghasilkan karya, mengembangkan teknologi, membangun ekonomi, dan membawa Indonesia menjadi pemain penting di panggung dunia.
Mencintai Indonesia hari ini berarti berkontribusi bagi kemajuan Indonesia.
Geopolitik Global: Tantangan Sekaligus Peluang
Dunia saat ini sedang memasuki era persaingan strategis baru. Rivalitas antara kekuatan-kekuatan besar dunia dalam bidang ekonomi, teknologi, energi, dan keamanan semakin intensif. Kawasan Indo-Pasifik, tempat Indonesia berada, menjadi salah satu pusat perhatian geopolitik global.
Dalam kondisi seperti ini, Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis. Letak geografis Indonesia yang berada di jalur perdagangan internasional, kekayaan sumber daya alam, bonus demografi, serta besarnya pasar domestik menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang diperhitungkan dunia.
Namun sejarah menunjukkan bahwa negara besar tidak lahir hanya karena memiliki sumber daya alam melimpah. Negara maju lahir karena memiliki sumber daya manusia unggul.
Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan berbagai negara maju lainnya membuktikan bahwa kualitas manusia jauh lebih menentukan dibandingkan kekayaan alam semata.
Karena itu, tantangan terbesar Indonesia bukanlah kekurangan potensi, melainkan bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi kekuatan nasional.
Apa yang Harus Dilakukan Generasi Muda Indonesia?
Untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara maju dan berpengaruh di dunia, setidaknya terdapat lima agenda besar yang harus menjadi fokus generasi muda.
1. Menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Persaingan global masa depan akan ditentukan oleh penguasaan teknologi. Kecerdasan buatan, robotika, bioteknologi, energi terbarukan, komputasi kuantum, dan teknologi digital akan menjadi sektor strategis abad ke-21.
Generasi muda Indonesia harus bertransformasi dari pengguna teknologi menjadi pencipta teknologi.
2. Memperkuat Karakter dan Integritas
Kecerdasan tanpa integritas dapat menjadi ancaman bagi bangsa. Korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan perilaku oportunistik sering kali lahir bukan karena kurangnya pendidikan, tetapi karena lemahnya karakter.
Nilai-nilai Pancasila harus menjadi fondasi etika dalam kehidupan publik maupun profesional.
3. Menjadi Warga Global yang Tetap Berakar pada Indonesia
Generasi muda perlu memiliki wawasan internasional, kemampuan bahasa asing, dan jejaring global. Namun keterbukaan terhadap dunia tidak boleh membuat kehilangan identitas sebagai bangsa Indonesia.
Menjadi global bukan berarti meninggalkan nasionalisme.
4. Membangun Kemandirian Ekonomi
Indonesia membutuhkan lebih banyak inovator, pengusaha, ilmuwan, peneliti, dan profesional unggul. Generasi muda harus menjadi pencipta lapangan kerja, bukan hanya pencari kerja.
Kemandirian ekonomi merupakan fondasi penting bagi kedaulatan nasional.
5. Mengembangkan Strategic Intelligence
Di era banjir informasi, kemampuan membaca perubahan menjadi sangat penting. Generasi muda perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, memahami geopolitik, menganalisis tren global, serta mengidentifikasi peluang dan risiko masa depan.
Bangsa yang mampu memahami perubahan akan lebih siap menghadapi perubahan tersebut.
Indonesia Emas 2045: Sebuah Pilihan
Tahun 2045 Indonesia akan memperingati satu abad kemerdekaan. Pada saat itu, sebagian besar pemimpin nasional berasal dari generasi muda yang saat ini sedang belajar, bekerja, membangun usaha, dan berkarya di berbagai bidang.
Indonesia Emas 2045 bukanlah sesuatu yang otomatis terjadi. Ia merupakan hasil dari keputusan yang diambil hari ini, kualitas pendidikan yang dibangun hari ini, serta karakter generasi yang dibentuk hari ini.
Tema Hari Lahir Pancasila 2026, “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”, mengingatkan bahwa Pancasila bukan hanya warisan sejarah, tetapi juga kompas moral dan strategis untuk menavigasi masa depan bangsa di tengah ketidakpastian global.
Pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh luas wilayahnya, jumlah penduduknya, atau kekayaan alamnya. Masa depan Indonesia ditentukan oleh kualitas manusianya.
Jika generasi muda Indonesia mampu menggabungkan semangat nasionalisme, penguasaan ilmu pengetahuan, integritas moral, dan kemampuan bersaing secara global, maka Indonesia bukan hanya akan menjadi negara maju, tetapi juga menjadi salah satu kekuatan besar dunia yang dihormati pada abad ke-21.
Pancasila telah memberikan arah. Kini tugas generasi muda adalah mewujudkannya menjadi kenyataan.
Tinggalkan Balasan