
Guntur Subagja Mahardika
Ketua Kelompok Kajian Kebijakan Strategis Center for Strategic Policy and Global Studies (CSGS) Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) Universitas Indonesia.
Kampanye “Sell Indonesia” yang merupakan gerakan penjualan aset, mata uang, dan saham yang dikumandangkan para pelaku pasar dan media Singapura di tengah terpuruknya nilai tukar rupiah dan ambrolnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia sejak awal Juni 2026 mendapatkan reaksi keras dari netizen dan investor lokal Indonesia. Adrenalin nasionalisme warganet Tanah Air menyala. Mereka marah dan mengutuk negeri jiran bersimbol Singa itu dengan balasan kampanye “Sell Singapore” dan “Buy Indonesia”.
Dampaknya? Kurs rupiah merangkak naik dan IHSG rebound. Kepercayaan investor mulai tumbuh kembali. Dalam beberapa hari terakhir, mata uang Garuda mengembalikan keperkasaannya, dan sentiment bursa saham positif. Bahkan, penguatan nilai tukar rupiah dan IHSG itu tidak terpengaruh oleh maraknya aksi demo mahasiswa di Jakarta dan beberapa kota lainnya. Rupiah dan indeks saham tetap melaju kencang tren positif.
Tentu, penguatan mata uang dan indeks harga saham nasional itu bukan semata-mata hanya kampaye netizen Indonesia, meski diakui gerakan warganet ini cukup berpengaruh. Bersamaan dengan itu, sejumlah kebijakan nasional yang dikomandoi Presiden Prabowo Subianto mengembalikan kepercayaan investor. Diantaranya, Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 bps menjadi 5,50% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan tanggal 9 Juni 2026. Kebijakan ini juga diikuti oleh kenaikan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,50% dan Lending Facility menjadi 6,25%.
Langkah Danantara dan BUMN yang melakukan buy back saham-saham BUMN yang ambrol harganya mampu mendongkrak IHSG. BUMN tentu diuntungkan, karena dapat memiliki kembali saham publik dengan harga murah. Sementara Kementerian Keuangan yang dipimpin Menteri Keuangan Purbaya menjalankan bauran kebijakan fiskal berupa sinergi erat dengan otoritas moneter (Bank Indonesia), menjaga kredibilitas APBN sebagai peredam kejut (shock absorber), dan menerbitkan instrumen SBN (Surat Berharga Negara) serta Sukuk khusus untuk menarik aliran masuk modal asing (capital inflow) guna memperkuat kurs rupiah dan IHSG.
Gerakan politik Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad yang menginsiasi pertemuan para pemegang kebijakan ekonomi: pemerintah, Bank Indonesia, perbankan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Danantara, mendapatkan respon positif pasar. Ketua Harian Partai Gerindra itu juga mengimbau masyarakat melepas dolar. Koordinasi dan konsolidasi antar-pemangku kepentingan (stakeholder) ini mengakselerasi penguatan rupiah dan IHSG.
Tren rupiah dan IHSG melorot tajam saat pemerintah mengeluarkan kebijakan ekspor sumber daya alam melalui satu pintu PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). BUMN Ekspor ini menjadi penjaga gawang pintu ekspor untuk menghindari terjadinya transfer pricing, under invoicing, dan manipulasi data ekspor, yang selama ini sering terjadi. Fakta ditemukan Menteri Keuangan, mempublikasikan beberapa perusahaan sawit besar yang melakukan transfer pricing dan under-invoicing. Selama ini mereka betransaksi dengan Singapura.

Raksasa Kecil Bernama Singapura
Selama hampir enam dekade, Singapura menjadi simbol keberhasilan ekonomi modern. Negara-kota yang merdeka pada 1965 itu berhasil bertransformasi dari pelabuhan kecil tanpa sumber daya alam menjadi salah satu pusat keuangan paling berpengaruh di dunia.
Singapura menikmati posisi istimewa sebagai pusat keuangan, perdagangan, investasi, dan logistik Asia Tenggara. Negara-kota seluas hanya sekitar 735 km² dengan populasi sekitar 5,9 juta jiwa itu berhasil membangun ekonomi bernilai lebih dari US$570 miliar dan pendapatan per kapita mendekati US$95.000 per tahun, salah satu yang tertinggi di dunia.
Harus diakui, keberhasilan Singapura bukan semata-mata karena luas wilayah atau sumber daya alam. Negeri itu hampir tidak memiliki tambang, minyak, batu bara, nikel, maupun lahan pertanian yang signifikan.
Kekuatan utama Singapura selama puluhan tahun adalah: (1) Pusat keuangan regional; (2) Pusat perdagangan dan ekspor-impor; (3) Pusat arbitrase dan jasa hukum internasional; (4) Pusat pengelolaan kekayaan (wealth management); (5) Pusat investasi Asia Tenggara; (6) Hub logistik dan pelabuhan terbesar dunia. Sebagian besar keunggulan tersebut berkembang karena Singapura menjadi “ruang mesin keuangan” bagi ekonomi kawasan, terutama Indonesia.
Dana Indonesia mengalir ke bank-bank Singapura. Perusahaan Indonesia mencatatkan bisnisnya di Singapura. Komoditas Indonesia diperdagangkan melalui jaringan keuangan Singapura. Bahkan banyak keluarga konglomerat Indonesia menjadikan Singapura sebagai basis pengelolaan aset.
Model ini bekerja sangat baik selama puluhan tahun. Tetapi kondisi mulai berubah.

Kekuatan Ekonomi Yang Tergantung Lingkungan Regional
Singapura memiliki beberapa pilar kekuangan ekonomi di regional. Pertama, perdagangan internasional. Singapura meriupakan salah satu pelabuhan tersibuk di dunia. Posisinya yang strategis di jalur perdagangan global menjadikannya pusat distribusi barang bagi kawasan Asia. Kedua, kekuatan pada sektor jasa keuangan. Singapura berkembang menjadi pusat keuangan internasional yang bersaing dengan Hong Kong dan Tokyo. Ribuat perusahaan multinasional menjadikan Singapura sebagai basis operasional regional.
Ketiga, investasi asing. Lingkungan bisnis yang stabil dan ramah investor menjadi magnet investasi global. Beberapa saat pasca pandemi, negara ini mampu menarik investasi miliar dolar AS, terutama pada sektor teknologi, semikonduktor, dan industri digital. Keempat, pariwisata. Sektor ini menjadi sumber devis apenting. Atraksi seperti Marina Bay Sands, Gardens by the Bay, Universal Studios Singapore, dan berbagai agenda MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) mendatangkan jutaan wisatawan mancanegara setiap tahun.
Kelima, industri pengolahan dan energi. Singapura meskipun tidak memiliki cadangan minyak, menjadi salah satu pusat penyulingan dan perdagangan energi terbesar di dunia, berpusat di kawasan industri Jurong Island. Selama puluhan tahun Indonesia tergandung pada impor minyak dari Singapura. Dan baru pada masa Prabowo tata niaga dan rente impor minyak dibenahi, bahkan distop dari Singapura. Prabowo mengalihkan pembelian minyak dari negara-negara lain seraya menyiapkan kemandirian energi nasional.
Indonesia: Raksasa yang Sedang Bangun
Indonesia yang selama ini diimpikan menjadi “Macan Asia” mulai siuman. Jika Singapura unggul pada modal dan jasa keuangan, Indonesia memiliki keunggulan berbeda:
- Pasar domestik terbesar di ASEAN
- Penduduk lebih 285 juta jiwa
- Cadangan nikel terbesar dunia
- Cadangan batu bara besar
- Kelapa sawit terbesar dunia
- Sumber daya perikanan dan pertanian yang sangat besar
Ekonomi Indonesia tumbuh relatif stabil di kisaran 5 persen dalam beberapa tahun terakhir. IMF memperkirakan PDB Indonesia mencapai sekitar US$1,54 triliun pada 2026. Dengan ukuran ekonomi tersebut, Indonesia sudah masuk kelompok ekonomi terbesar dunia dan terbesar di Asia Tenggara.
Prabowo Mengubah Cara Bermain
Berbeda dengan pendekatan sebelumnya yang relatif liberal terhadap arus modal dan pengelolaan sumber daya, Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kecenderungan yang lebih nasionalistik dan berorientasi pada penguatan kapasitas domestik.
Langkah yang paling menarik perhatian adalah pembentukan Danantara, sovereign wealth fund Indonesia yang dirancang mengelola aset negara hingga lebih dari US$900 miliar. Dana ini secara terbuka disebut terinspirasi oleh model Temasek milik Singapura.
Jika Temasek selama puluhan tahun menjadi simbol kecerdasan Singapura dalam mengelola aset negara, maka Danantara berpotensi menjadi versi Indonesia dengan skala yang jauh lebih besar karena ditopang sumber daya alam dan pasar domestik yang sangat besar.
Kini Temasek memiliki penantang. Selama bertahun-tahun, Temasek menjadi simbol keberhasilan negara kecil yang mampu mengelola aset secara profesional. Nilai portofolionya mencapai ratusan miliar dolar Singapura dan menjadi salah satu sovereign wealth fund paling sukses di dunia.
Kini Indonesia sedang mencoba membangun institusi dengan ambisi serupa. Memang masih terlalu dini menyatakan Danantara akan menyamai Temasek. Bahkan sejumlah analis mengingatkan bahwa tantangan tata kelola dan kepercayaan investor masih harus dibuktikan.
Namun dari perspektif geopolitik ekonomi, pesan yang dikirimkan Jakarta sangat jelas: Indonesia tidak lagi ingin hanya menjadi pemasok bahan baku bagi pusat keuangan regional. Indonesia ingin menjadi pusat keuangan regional itu sendiri.
Baru-baru ini, unit investasi Danantara bahkan berhasil memperoleh permintaan investor global lebih dari tiga kali nilai obligasi yang diterbitkannya. Hal tersebut menunjukkan bahwa pasar internasional mulai memberikan perhatian serius terhadap instrumen investasi Indonesia.
Ancaman Terbesar Bagi Singapura Bukan Militer, Tapi Kapital
Singapura tidak pernah khawatir terhadap ancaman militer Indonesia. Yang lebih mengkhawatirkan adalah kemungkinan perpindahan pusat gravitasi ekonomi.
Apabila Indonesia berhasil memperkuat pasar modal domestik; membangun Jakarta sebagai pusat keuangan regional; mengembangkan Danantara menjadi pemain global; mengendalikan rantai nilai hilirisasi mineral; dan menarik dana Indonesia kembali masuk ke dalam negeri; maka sebagian fungsi ekonomi yang selama ini dinikmati Singapura berpotensi berkurang.
Dalam ekonomi modern, arus modal jauh lebih menentukan dibanding luas wilayah. Dan Indonesia memiliki keunggulan yang tidak dimiliki Singapura: populasi lebih dari 28 juta jiwa, kekayaan sumber daya alam yang sangat besar, dan pasar domestik raksasa.
Hilirisasi dan Kontrol Komoditas
Kebijakan hilirisasi yang dimulai pada era Presiden Joko Widodo kini memperoleh akselerasi baru. Presiden Prabowo tidak hanya berbicara soal ekspor bahan mentah, tetapi juga meningkatkan pengawasan terhadap komoditas strategis melalui struktur Danantara dan berbagai instrumen negara lainnya.
Artinya, nilai tambah yang selama ini banyak dinikmati di luar Indonesia berpotensi semakin banyak dipertahankan di dalam negeri.Bagi Singapura, perkembangan ini penting karena sebagian aktivitas perdagangan dan pembiayaan regional selama ini bertumpu pada arus komoditas Asia Tenggara.
Penugasan khusus pada Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) membuahkan hasil penyitaan jutaan hektar kebun sawit dan lahan pertambangan ilegal. Perusahaan pelaku bisnis ilegal itu diantaranya berkantor atau memiliki kantor cabang di Singapura.
Munculnya Prabowo Effect
Yang membuat Singapura mulai memperhatikan Jakarta bukan semata pertumbuhan ekonomi Indonesia. Melainkan arah kebijakan ekonomi baru. Presiden Prabowo Subianto membawa beberapa agenda utama:
- memperkuat hilirisasi industri;
- memperbesar peran investasi nasional;
- memperkuat ketahanan pangan dan energi;
- membangun Danantara sebagai sovereign wealth fund Indonesia;
- mendorong industrialisasi berbasis sumber daya domestik.
Indonesia tidak ingin hanya menjadi pemasok bahan mentah bagi dunia. Indonesia ingin menjadi pusat penciptaan nilai tambah.

Mengapa Singapura Gelisah?
Kata “gelisah” tentu bukan berarti Singapura sedang krisis. Ekonomi Singapura masih sangat kuat. Pada 2025 ekonomi mereka tumbuh sekitar 4 persen, jauh lebih baik dari banyak negara maju lainnya.
Kebijakan pemerintahan Prabowo Subianto tentu bukan untuk mematikan ekonomi Singapura. Negeri Singa ini bisa jadi tetap merupakan negara yang sangat maju, efisien, dan kompetitif. Infrastruktur, regulasi, kualitas SDM, serta kepastian hukumnya masih jauh di atas sebagian besar negara berkembang.
Meski begitu kebijakan Indonesia ini membuat gelisah karena bakal berdampak besar pada Singapura. Ketika Indonesia mulai mengonsolidasikan aset negara, memperkuat hilirisasi, membangun sovereign wealth fund raksasa, dan berupaya menarik kembali arus modal nasional, maka lanskap ekonomi Asia Tenggara sedang berubah.
Para perencana ekonomi Singapura memahami satu hal: Masa depan ditentukan oleh arah arus modal.
Jika Indonesia berhasil: (1) Memperkuat pasar modal domestik; (2) Menarik dana Indonesia kembali ke dalam negeri; (3) mengembangkan Jakarta sebagai pusat keuangan regional; (4) mengendalikan rantai nilai hilirisasi mineral; (5) memperbesar investasi melalui Danantara; maka sebagian aktivitas ekonomi yang selama ini berputar melalui Singapura dapat bergeser ke Indonesia.
Selama puluhan tahun, Singapura menjadi pusat gravitasi ekonomi Asia Tenggara. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa tidak ada dominasi yang berlangsung selamanya.
Prabowo sedang berusaha membangun Indonesia yang tidak hanya besar secara geografis dan demografis, tetapi juga kuat secara finansial, industrial, dan geopolitik.
Perubahan itu mungkin tidak terjadi dalam satu atau dua tahun. Tapi, apabila agenda ekonomi Prabowo berjalan konsisten selama satu dekade, maka pertanyaan yang selama ini dianggap mustahil bisa mulai terdengar masuk akal: Apakah Singapura akan tetap menjadi pusat ekonomi utama Asia Tenggara, atau justru Indonesia yang mengambil peran tersebut?
Bila agenda hilirisasi, industrialisasi, dan penguatan investasi nasional berhasil dijalankan secara konsisten selama satu dekade ke depan, maka Singapura tidak akan kehilangan relevansinya. Namun posisinya sebagai pusat ekonomi yang nyaris tak tertandingi di ASEAN bisa mulai mendapat penantang serius.
Dan penantang itu bernama Indonesia. Inilah yang dapat disebut sebagai Prabowo Effect: ketika kebangkitan ekonomi Indonesia mulai mengubah kalkulasi strategis negara-negara tetangga, termasuk Singapura.
Itulah inti dari Prabowo Effect. ***
Penulis
Guntur Subagja Mahardika, Ketua Kelompok Kajian Strategis CSGS SPPB UI, Founder Indonesia Strategic Intelligence (ISI), Ketua Umum Insan Tani dan Nelayan Indonesia (Intani), dan Ketua Umum Arus Baru Indonesia (ARBI), dan pendiri Yayasan Mitra Mikro.
Tinggalkan Balasan