
Oleh: Guntur Subagja Mahardika
Ketua Umum Arus Baru Indonesia (ARBI)
Indonesia sedang berada pada persimpangan sejarah yang menentukan. Setelah melewati era reformasi, konsolidasi demokrasi, dan pembangunan infrastruktur nasional, bangsa ini memasuki fase baru yang menuntut transformasi lebih mendalam: membangun kemandirian ekonomi, memperkuat keadilan sosial, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memastikan kemajuan bangsa dapat dirasakan seluruh rakyat Indonesia.
Di tengah tantangan tersebut, lahirlah Arus Baru Indonesia (ARBI) sebagai gerakan kebangsaan yang berupaya menghadirkan gagasan, gerakan, dan aksi nyata untuk mempercepat terwujudnya Indonesia yang maju, berdaulat, adil, dan sejahtera.
Lahir dari Gagasan Transformasi Bangsa
Arus Baru Indonesia (ARBI) merupakan organisasi kebangsaan yang berakar pada gagasan besar pembangunan nasional yang digagas oleh Wakil Presiden RI ke-13, KH Ma’ruf Amin. Konsep “Arus Baru Indonesia” berangkat dari pemikiran mengenai perlunya transformasi ekonomi nasional yang lebih berpihak kepada rakyat, memperkuat ekonomi kerakyatan, ekonomi syariah, ekonomi pesantren, industri halal, serta pengurangan kesenjangan sosial dan ekonomi.
Gagasan tersebut berkembang dari semangat “Arus Baru Ekonomi Indonesia” yang pernah menjadi tema besar dalam Kongres Ekonomi Umat dan kemudian diperluas menjadi gerakan kebangsaan yang mencakup dimensi politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.
ARBI hadir sebagai rumah besar bagi berbagai elemen bangsa yang memiliki kesamaan visi untuk memperkuat persatuan nasional, meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan mendorong pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

Visi ARBI
Mewujudkan Indonesia yang maju, berkeadilan, berdaulat, dan sejahtera melalui penguatan ekonomi kerakyatan, pembangunan sumber daya manusia unggul, demokrasi yang berkualitas, serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Misi ARBI
- Mengembangkan ekonomi kerakyatan dan kewirausahaan nasional.
- Memperkuat UMKM, koperasi, petani, nelayan, peternak, dan pelaku usaha rakyat.
- Mendorong pengembangan ekonomi syariah, industri halal, dan ekonomi pesantren.
- Membangun generasi muda yang produktif, inovatif, dan berdaya saing global.
- Mengembangkan pendidikan, riset, dan inovasi untuk kemajuan bangsa.
- Memperkuat demokrasi yang beretika dan berorientasi pada kepentingan rakyat.
- Mengawal kebijakan pembangunan nasional agar berpihak kepada masyarakat luas.
- Memperkuat nilai gotong royong, toleransi, dan persatuan bangsa.
Pilar-Pilar Kekuatan ARBI
Sebagai organisasi yang berbasis gerakan sosial dan kebangsaan, ARBI menghimpun berbagai elemen masyarakat dalam sembilan pilar utama, yaitu:
- Pilar Ekonomi
- Pilar Ulama dan Tokoh Agama
- Pilar Santri dan Remaja Masjid
- Pilar Pengusaha
- Pilar Milenial dan Generasi Z
- Pilar Pendidikan dan Akademisi
- Pilar Buruh
- Pilar Petani, Nelayan, dan Peternak
- Pilar Kebudayaan dan Kreatif
Pilar-pilar tersebut menjadi kekuatan sosial yang menghubungkan berbagai kelompok masyarakat dalam satu visi pembangunan nasional yang inklusif dan berkeadilan.

Kiprah Politik ARBI
Dalam bidang politik, ARBI memposisikan diri sebagai organisasi kebangsaan yang aktif mendorong demokrasi substantif, pendidikan politik masyarakat, serta penguatan partisipasi publik dalam pembangunan nasional.
Pada Pemilu 2019, ARBI turut menjadi salah satu elemen pendukung pasangan Joko Widodo dan KH Ma’ruf Amin. Selanjutnya, pada Pemilu 2024, ARBI menyatakan dukungan kepada pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka setelah melakukan kajian terhadap visi, misi, dan program pembangunan nasional yang dianggap sejalan dengan gagasan besar ARBI.
Namun, peran ARBI tidak berhenti pada dukungan politik elektoral. ARBI juga berkomitmen mengawal implementasi program-program kerakyatan agar benar-benar sampai kepada masyarakat dan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan rakyat.
ARBI meyakini bahwa politik harus menjadi instrumen pengabdian untuk kemajuan bangsa, bukan sekadar perebutan kekuasaan.

Kiprah Ekonomi ARBI
Bidang ekonomi merupakan salah satu fokus utama gerakan ARBI.
Sejak awal berdiri, ARBI konsisten memperjuangkan:
- Penguatan UMKM dan usaha mikro.
- Pengembangan ekonomi syariah.
- Penguatan ekonomi pesantren.
- Pengembangan industri halal.
- Pemberdayaan petani, nelayan, peternak, dan pelaku usaha rakyat.
- Pengurangan kesenjangan ekonomi.
- Penciptaan lapangan kerja produktif.
ARBI memandang bahwa masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kemampuan bangsa membangun ekonomi yang berdaulat dan berbasis pada kekuatan rakyat. Oleh karena itu, organisasi ini aktif mendorong pengembangan kewirausahaan, akses pembiayaan, digitalisasi ekonomi rakyat, serta penguatan rantai nilai produk nasional.
Di era transformasi digital dan ekonomi hijau, ARBI juga mendorong lahirnya generasi baru entrepreneur Indonesia yang mampu menguasai teknologi, inovasi, energi terbarukan, dan sektor-sektor strategis masa depan.
Kiprah Sosial ARBI
Sebagai gerakan kebangsaan, ARBI tidak hanya bergerak di bidang politik dan ekonomi, tetapi juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.
Program-program sosial ARBI meliputi:
- Pemberdayaan masyarakat desa.
- Pengentasan kemiskinan.
- Penguatan ketahanan pangan keluarga.
- Pendidikan dan pelatihan generasi muda.
- Literasi digital masyarakat.
- Pengembangan ekonomi berbasis komunitas.
- Penguatan filantropi dan dana sosial.
- Respons kemanusiaan saat terjadi bencana.
ARBI meyakini bahwa pembangunan yang berhasil bukan hanya ditandai oleh pertumbuhan ekonomi, tetapi juga meningkatnya kualitas hidup masyarakat, berkurangnya kemiskinan, dan meningkatnya kesempatan bagi seluruh warga negara untuk berkembang.
Nilai gotong royong, solidaritas sosial, dan keberpihakan kepada kelompok rentan menjadi prinsip utama dalam setiap gerakan sosial yang dilakukan ARBI.
Menyongsong Indonesia Emas 2045
Indonesia memiliki peluang besar menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia pada tahun 2045. Bonus demografi, sumber daya alam yang melimpah, kemajuan teknologi, dan posisi strategis Indonesia merupakan modal besar yang harus dikelola dengan baik.
Namun peluang tersebut hanya dapat diwujudkan apabila bangsa ini mampu memperkuat kualitas sumber daya manusia, membangun ekonomi yang inklusif, memperkuat demokrasi, serta menjaga persatuan nasional.
Di sinilah ARBI mengambil peran.
ARBI hadir sebagai gerakan pemikiran dan aksi yang menghubungkan dunia politik, ekonomi, sosial, pendidikan, budaya, dan generasi muda dalam satu semangat besar: menghadirkan arus perubahan yang membawa manfaat bagi seluruh rakyat Indonesia.
Kami percaya bahwa Indonesia tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan nilai, karakter, dan peradaban.
Melalui kerja bersama, kolaborasi lintas sektor, dan semangat gotong royong, ARBI berkomitmen menjadi bagian dari perjalanan besar bangsa menuju Indonesia Emas 2045: Indonesia yang maju, adil, makmur, berdaulat, dan bermartabat di mata dunia.

Sejarah Kepemimpinan ARBI
Dalam perjalanan organisasinya, Arus Baru Indonesia (ARBI) terus berkembang sebagai gerakan kebangsaan yang menghimpun berbagai elemen masyarakat untuk memperjuangkan keadilan sosial, pemberdayaan ekonomi rakyat, dan pembangunan nasional yang inklusif. ARBI lahir dari gerakan umat yang saat itu digagas Kyai Ma’ruf Amin dan dimotori para aktivis Majelis Ulama Indonesia di Nusantara, serta aktivis organisasi islam dan masyarakat umum.
Kepemimpinan ARBI periode pertama dipimpin oleh Dr. H. Lukmanul Hakim, yang berperan penting dalam membangun fondasi organisasi, memperluas jaringan kebangsaan, serta mengonsolidasikan berbagai pilar gerakan yang menjadi kekuatan utama ARBI. Di bawah kepemimpinan beliau, ARBI mengembangkan berbagai program penguatan ekonomi umat, pemberdayaan masyarakat, dan pendidikan kebangsaan yang sejalan dengan gagasan besar Arus Baru Indonesia yang digagas oleh KH Ma’ruf Amin. Pengurus inti Arus Baru Indonesia (ARB) adalah Dr Lukmanul Hakim, Nasyith Majidi, Arjuna Basuki, Virda Yanuarti. Guntur Subagja Mahardika bergabung dengan ARBI sebagai Tim Ekonomi ARBI dan menjadi anggota Pengawas dalam kepengurusan berbadan hukum ARBI pada periode 2019-2023.

Memasuki semester kedua tahun 2023, estafet kepemimpinan ARBI dilanjutkan oleh Guntur Subagja Mahardika. Amanah kepemimpinan tersebut diterima pada November 2023 dengan mandat untuk memperkuat konsolidasi organisasi, memperluas peran strategis ARBI dalam pembangunan nasional, serta memperkokoh kontribusi organisasi dalam bidang politik, ekonomi, sosial, pendidikan, dan pemberdayaan generasi muda.
Di bawah kepemimpinan Guntur Subagja Mahardika, ARBI menegaskan posisinya sebagai gerakan pemikiran dan aksi yang berorientasi pada penguatan ekonomi kerakyatan, pengembangan ekonomi syariah, ekonomi pesantren, industri halal, pemberdayaan UMKM, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. ARBI juga terus mengembangkan sembilan pilar organisasi sebagai basis gerakan nasional yang menjangkau kalangan ulama, santri, pengusaha, akademisi, petani, nelayan, buruh, generasi muda, dan komunitas kebudayaan.
Susunan Kepemimpinan ARBI
- Ketua Umum Periode Pertama: Dr. H. Lukmanul Hakim (alm, 2025)
- Ketua Umum Periode 2023–sekarang: Guntur Subagja Mahardika
Keberlanjutan kepemimpinan dari Dr. H. Lukmanul Hakim kepada Guntur Subagja Mahardika mencerminkan komitmen ARBI untuk menjaga kesinambungan visi organisasi sekaligus melakukan adaptasi terhadap tantangan baru bangsa. Dengan semangat kolaborasi dan gotong royong, ARBI terus berupaya menjadi bagian dari solusi bagi pembangunan Indonesia menuju cita-cita Indonesia Emas 2045.***
Penulis, Ketua Umum Arus Baru Indonesia (ARBI) | www.arusbaru.com
Tinggalkan Balasan