Guntur Subagja Mahardika

Founder, Indonesia Strategic Intelligence (ISI)

Hari ini, 8 Juni 2026. Bapak Lingkungan Hidup Indonesia, Prof. Dr. Emil Salim berulang tahun. Putra Minangkabau kelahiran tahun 1930 itu memasuki usianya yang ke-96. Beberapa hari sebelumnya, saya mendampingi beliau pada peringatan Hari Lingkungan Hidup 2026: Pencanganan Green Waqf. Pada usia ke-96 tahun, Prof Emil masih gagah. Pikirannya tetap tajam dan kritis.

Sosok Emil Salim dikenang sebagai salah satu pemikir dan negarawan Indonesia yang paling konsisten dalam memperjuangkan kelestarian lingkungan hidup. Kiprahnya melampaui dunia ekonomi yang menjadi bidang keahliannya. Selama puluhan tahun, ia menunjukkan bahwa pembangunan tidak boleh memisahkan manusia dari alam, melainkan harus membangun hubungan yang harmonis antara keduanya.

Sebagai profesor ekonomi, jalan pemikiran Emil Salim sesungguhnya menghadapkan dirinya pada sebuah tantangan intelektual. Ilmu ekonomi modern pada mulanya banyak menempatkan alam sebagai objek yang dapat dieksploitasi untuk menghasilkan pertumbuhan dan manfaat ekonomi. Namun, perjalanan panjangnya justru membawanya pada pandangan yang berbeda. Baginya, alam tidak sekadar objek, melainkan subjek yang harus dihormati dan dipelihara keberlanjutannya.

Belajar Lingkungan dari Buya Hamka

Ketika Presiden Soeharto mengangkat Emil Salim sebagai Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup pada era Orde Baru, bidang lingkungan hidup masih relatif baru di Indonesia. Menyadari bahwa ilmu lingkungan bukan disiplin akademik yang ia tekuni sejak awal, Emil Salim justru mencari landasan yang lebih mendasar, termasuk nilai-nilai agama.

Ia mendatangi Buya Hamka di Majelis Ulama Indonesia dan didampingi oleh Hasan Basri. Dari pertemuan tersebut, Emil memperoleh pandangan bahwa agama, khususnya Islam, telah memiliki ajaran yang sangat kaya mengenai hubungan manusia dengan alam.

Buya Hamka mengingatkan pentingnya firman Allah SWT dalam Surah Ar-Rum ayat 41:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Ayat tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi Emil Salim. Ia meyakini bahwa Islam, sebagaimana agama-agama besar lainnya, mengajarkan keseimbangan antara manusia dan alam. Kerusakan lingkungan bukan sekadar persoalan teknis, tetapi juga persoalan moral dan spiritual.

Belajar dari Kearifan Pesantren

Atas arahan Buya Hamka, Emil Salim kemudian banyak berkunjung ke berbagai pesantren untuk melihat praktik nyata pelestarian lingkungan. Salah satu yang paling berkesan adalah kunjungannya ke Pondok Pesantren Annuqayah di Guluk-Guluk, Sumenep, Madura, yang dipimpin oleh Kiai Mursyid.

Di kawasan yang semula tandus, pesantren tersebut berhasil menghijaukan lingkungan sekitarnya melalui penanaman pohon dan pengelolaan sumber daya alam secara bijaksana. Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinan Emil Salim bahwa kearifan lokal dan nilai-nilai keagamaan merupakan modal penting dalam menjaga keseimbangan ekologis.

Atas arahan Buya Hamka pula, Prof. Emil Salim juga bertemu dengan pendera katolik di Nusa Tenggara Timur, yang turut memperkaya perspektifnya mengenai lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

Dakwah Lingkungan pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026

Memasuki usia senja, kepedulian Prof. Emil Salim terhadap lingkungan tidak pernah surut. Pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni 2026, ia hadir dalam Pencanangan Wakaf Hijau (Green Waqf) sebagai gerakan hijau untuk pemuliaan dan pemulihan lingkungan yang diselenggarakan di Gedung Majelis Ulama Indonesia.

Dalam acara tersebut, Prof. Emil Salim tampil sebagai narasumber utama dan menyampaikan apa yang disebutnya sebagai “dakwah lingkungan”. Ia didampingi oleh Amirsyah Tambunan dan Guntur Subagja Mahardika.

Di hadapan para peserta, Prof. Emil Salim mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan yang terjadi dewasa ini menuntut tindakan nyata dari pemerintah dan seluruh elemen masyarakat. Ia mengimbau para menteri dan para pengambil kebijakan yang berkaitan dengan sumber daya alam agar lebih serius melakukan pemulihan lingkungan dan kembali belajar dari nilai-nilai luhur serta kearifan lokal yang telah lama menjaga keseimbangan alam.

Menjaga Amanah Bumi

Selama hampir satu abad kehidupannya, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia itu telah menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi tidak boleh berdiri sendiri tanpa memperhitungkan keberlanjutan lingkungan. Dari seorang ekonom, ia menjelma menjadi guru bangsa yang mengajarkan bahwa kesejahteraan manusia tidak dapat dipisahkan dari kelestarian bumi.

Pesan yang ia wariskan sederhana tetapi mendalam: manusia bukan penguasa mutlak alam, melainkan bagian dari tatanan ciptaan yang memikul amanah untuk memuliakan dan memulihkan lingkungan. Karena itu, pembangunan yang sejati bukanlah yang menguras sumber daya tanpa batas, melainkan yang menjaga keseimbangan agar bumi tetap lestari bagi generasi yang akan datang.

Memasuki usia ke-96 tahun, Prof. Dr. Emil Salim tetap menjadi teladan bahwa ilmu pengetahuan, agama, dan kearifan lokal dapat bertemu dalam satu tujuan besar: merawat bumi sebagai rumah bersama umat manusia.

Selamat Ulang Tahun ke-96 Profesor Emil Salim !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »